Senin, 12 Januari 2009

PROSPEK DAN KEGUNAAN MINYAK ATSIRI

Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam perdagangan, sulingan minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi.

Para ahli biologi menganggap, minyak atsiri merupakan metabolit sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain (lihat alelopati) dalam mempertahankan ruang hidup. Walaupun hewan kadang-kadang juga mengeluarkan bau-bauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau cairan yang berbau menyengat dari beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan sebagai minyak atsiri.

Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama di hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya kuat). Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat menghasilkan rasa yang berbeda.

Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas suatu aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil.

Minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman aromatik merupakan komoditas ekspor non migas yang dibutuhkan diberbagai industri seperti dalam industri parfum, kosmetika, industri farmasi/obat-obatan, industri makanan dan minuman. Dalam dunia perdagangan, komoditas ini dipandang punya peran strategis dalam menghasilkan produk primer maupun sekunder, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Komoditas ini masih tetap eksis walaupun selalu terjadi fluktuasi harga, namun baik petani maupun produsen masih diuntungkan.

Di Indonesia penggunaan minyak atsiri ini sangat beragam, dapat digunakan melalui berbagai cara yaitu melalui mulut/dikonsumsi langsung berupa makanan dan minuman seperti jamu yang mengandung minyak atsiri, penyedap/fragrant makanan, flavour es krim, permen, pasta gigi dan lain-lain. Pemakaian luar seperti untuk pemijatan, lulur, lotion, balsam, sabun mandi, shampo, obat luka/memar, pewangi badan (parfum). Melalui pernapasan (inhalasi/aromaterapi) seperti untuk wangi-wangian ruangan, pengharum tissue, pelega pernafasan rasa sejuk dan aroma lain untuk aroma terapi. Pemanfaatan aromaterapi sebagai salah satu pengobatan dan perawatan tubuh yang menjadi trend “back to nature” sangat membutuhkan bahan baku yang beragam dan bermutu dari tanaman aromatik.

Keanekaragaman tanaman aromatik yang menghasilkan minyak atsiri diperkirakan 160-200 jenis yang termasuk dalam famili Labiatae, Compositae, Lauraceae, Graminae, Myrtaceae, Umbiliferae dan lain-lain. Dalam dunia perdagangan telah beredar ± 80 jenis minyak atsiri diantaranya nilam, serai wangi, cengkeh, jahe, pala, fuli, jasmin dan lain-lain, sedang di Indonesia diperkirakan ada 12 jenis minyak atsiri yang diekspor ke pasar dunia. Jenis-jenis minyak atsiri Indonesia yang telah memasuki pasaran internasional diantaranya nilam, serai wangi, akar wangi, kenanga/ylang-ylang, jahe, pala/fuli dan lain-lain.

Sebagian besar minyak atsiri yang diproduksi oleh petani diekspor, pangsa pasar beberapa komoditas aromatik seperti nilam, kenanga, akar wangi, serai wangi, pala, cengkeh, jahe dan lada. Oleh sebab itu keanekaragaman minyak atsiri Indonesia yang bertujuan untuk ekspor maupun berfungsi sebagai substitusi impor harus ditingkatkan.

Perkembangan minyak atsiri di Indonesia berjalan agak lambat, hal ini disebabkan

adanya beberapa faktor yang menjadi masalah yang sangat erat kaitannya satu sama lain. Rendahnya produksi tanaman, sifat usahatani, mutu minyak yang beragam,penyediaan produk yang tidak bermutu, fluktuasi harga, pemasaran, persaingan sesama negara produsen dan adanya produk sintetis. Pengelolaan usahatani bersifat sambilan dengan modal yang kecil dan teknologi seadanya. Belum semua paket teknologi (varietas/jenis unggul, budidaya dan pengolahan/pasca panen) tersedia untuk beberapa komoditas tanaman aromatik, karena banyak ragamnya dan prioritasnya penelitian masih rendah dibanding dengan tanaman perkebunan lainnya. Dengan skala usahatani yang kecil dan kemampuan teknologi yang terbatas sehingga kadang tidak memenuhi persyaratan teknis baik dari penggunaan bahan tanaman (varietas unggul), peralatan mupun cara pengolahan seringkali produksi dan mutu minyak atsiri yang dihasilkan sangat rendah dan beragam, sehingga penyediaan produk kurang mantap.

Fluktuasi harga minyak atsiri yang cukup besar menjadi masalah yang sulit dikendalikan. Umumnya petani menggarap lahan yang sempit dan terbatas, sehingga fluktuasinya sangat berpengaruh terhadap ketersediaan produk. Petani akan malas mengusahakan produk tersebut dan mengalihkan ke usahatani dengan menanam tanaman lain yang harganya lebih menjanjikan atau menghentikan usahanya sama sekali.

Untuk menghadapi fluktuasi harga, usaha yang mungkin dapat ditempuh adalah diversifikasi jenis komoditas, baik secara horizontal maupun vertikal. Secara horizontal yaitu dengan menambah keanekaragaman jenis minyak atsiri, sedang secara vertical menganekaragamkan produk melalui pengolahan lebih lanjut jenis minyak atsiri.

Dengan berkembangnya berbagai industri di dalam negeri, maka kebutuhan minyak atsiri dan turunannya semakin meningkat baik dari segi jenis minyak atsiri maupun volumenya. Diperkirakan jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun, yang dapat dilihat dari nilai impor minyak atsiri.

Kebutuhan minyak atsiri dalam negeri cukup besar baik dari volume maupun jenisnya makin beragam karena kebutuhan industri juga makin pesat dan berkembang ragamnya seperti akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan untuk aromaterapi/spa dan lain sebagainya. Dari segi kebutuhan baik untuk ekspor maupun impor masih akan meningkat terus sehingga peluang pengembangan minyak atsiri baik yang telah berkembang maupun minyak atsiri baru masih terbuka luas.

Untuk minyak atsiri yang sudah berkembang seperti nilam, akar wangi, serai wangi dan kenanga pengembangannya diarahkan pada peningkatan mutunya dengan menggunakan benih unggul dan cara pengolahan (penanganan bahan tanaman dan penyulingan) yang tepat. Selain itu dukungan teknologi budidaya yang direkomendasikan dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) dan efisiensi usahatani yang tepat akan meningkatkan usahatani minyak atsiri yang pada gilirannya akan meningkatkan daya saing minyak atsiri Indonesia di pasar dunia. Karena penambahan areal pada tanaman minyak atsiri yang sudah berkembang tidak akan banyak berpengaruh pada peningkatan nilai ekspor, karena harga akan turun apabila produksi berlebihan.

Untuk minyak atsiri yang sedang berkembang dan potensi dikembangkan perlu adanya studi kelayakan usahataninya dan celah-celah pemasarannya. Ragam minyak atsiri baru sangat berpeluang untuk dikembangkan mengingat peruntukan penggunaannya masih terbuka luas dengan berkembangnya industri makanan, minuman, obat-obatan, aromaterapi dan lain sebagainya. Dengan demikian dari potensi keanekaragaman tanaman penghasil minyak atsiri, Indonesia mempunyai peluang sangat besar untuk mengembangkan minyak atsiri baru.

Potensi keanekaragaman tanaman aromatik penghasil minyak atsiri yang dimiliki Indonesia akan dapat dimanfaatkan apabila ditanam pada lingkungan yang sesuai. Indonesia mempunyai wilayah yang luas dengan ragam tanah dan iklim yang berbeda- beda. Hal ini memungkinkan untuk pengembangan suatu komoditas minyak atsiri yang cocok pada suatu daerah tertentu sehingga hasilnya maksimal.


DAMPAK KRISIS EKONOMI GLOBAL TERHADAP PERTANIAN DI INDONESIA



Krisis ekonomi global yang disebabkan oleh Krisis ekonomi di AS itu mengakibatkan dampak langsung bagi kita, yaitu kehilangan pasar pangan dan pertanian di AS. Dan dampak tidak langsung adalah kehilangan pasar di negara lain.

Fenomena saat ini mengingatkan kita pada situasi 1998. Namun krisis ekonomi 1998 lebih besar dampaknya bagi kita daripada krisis ekonomi yang sekarang. Karena krisis 1998 lalu kerusakannya disebabkan dari dalam ,yaitu para warga pribumi yang bertindak anarkis merusak berbagai toko dan fasilitas-fasilitas pemerintah. Sedangkan sekarang ini kerusakan datang dari luar, yaitu dari krisis ekonomi yang dialami oleh AS. Memang pertumbuhan ekonomi kita akan lebih sulit. Namun tidak akan mengalami pertumbuhan negatif yang besar seperti 1998.

Dampak yang paling terasa adalah dari sisi pangsa pasar yang ditandai dengan turunnya permintaan. Untuk itu, strategi yang harus dikembangkan untuk mengantisipasi krisis tersebut dengan penciptaan pasar baru, termasuk pasar dalam negeri. Dampak terhadap sektor pertanian lebih kepada aspek pasar daripada aspek keuangannya. krisis menyebabkan turunnya permintaan di AS. Sehingga ekspor Indonesia ke AS, termasuk produk pertanian bisa terganggu.

Industri pertanian di Indonesia akan terkena imbas dari krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat. Permintaan AS dan negara-negara di Eropa terhadap kakao dan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil/CPO Indonesia akan menurun karena adanya krisis keuangan tersebut.

Krisis ekonomi yang menimpa perekonomian AS sudah merambat ke seluruh negara-negara di dunia, dan mengakibatkan kerusakan ekonomi di Negara-negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi dunia akan berkurang, pengangguran meningkat, perdagangan menurun, dan harga-harga termasuk harga energi dan pangan akan menurun. Dengan berkurangnya pertumbuhan ekonomi dunia, permintaan terhadap produk-produk pertanian, seperti kelapa sawit, karet, kopi, kakao, teh, dan rempah-rempah akan berkurang. Jumlah permintaan yang berkurang ini juga disertai dengan harga yang semakin rendah.

Dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia bisa terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung, khususnya pada pangan dan pertanian Indonesia. Secara langsung, terjadi penurunan ekspor produk-produk pangan dan pertanian Indonesia ke AS yang merupakan pasar ekspor utama produk pangan dan pertanian Indonesia.

Secara tidak langsung, dengan pertumbuhan ekonomi AS yang semakin kecil padahal AS merupakan pasar besar buat China dan India, maka pertumbuhan ekonomi China dan India juga akan berkurang. Oleh karena itu, permintaan akan pangan dari China dan India akan berkurang sehingga ekspor pangan dan pertanian dari Indonesia juga akan berkurang.

Hal tersebut akan berakibat buruk pada pertanian Indonesia, khususnya produk-produk pertanian Indonesia yang mengandalkan pasar ekspor. Maka sektor pertanian pada masa-masa yang akan datang di Indonesia bakal mengalami penurunan pertumbuhan, pengangguran bertambah, dan kemiskinan juga bertambah.

Krisis ini mengakibatkan pengurangan pada ekspor dan investasi, maka variabel yang dapat dimanfaatkan adalah konsumsi dalam negeri dan pembelanjaan pemerintah. Konsumsi dalam negeri terhadap produk-produk domestik harus ditingkatkan. Saat ini kesempatan untuk meningkatkan konsumsi pangan dalam negeri karena harga lebih murah, khususnya konsumsi protein dan lemak yang berasal dari ternak dan ikan.

Indonesia harus mengusahakan ekspor pertaniannya jangan menurun drastis, meskipun harus melalui sistem barter. Barter walaupun primitif, masih lebih bagus daripada tidak ada perdagangan sama sekali. Selain itu, jika masih ada peluang untuk mengekspor, semua hambatan ekspor harus dipangkas, misalnya pajak ekspor CPO.

Di samping itu, perdagangan antarpulau dapat juga menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kelesuan yang terjadi di bidang pertanian. Oleh karena itu, hambatan perdagangan antardaerah juga harus dipangkas, seperti aturan-aturan yang rumit di pelabuhan, retribusi-retribusi nakal juga harus dikurangi.

Beberapa upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan program revitalisasi pertanian antara lain: Sosialisasi secara terus menerus kepada pemerintah kabupaten/kota, para petani dan nelayan serta semua komponen masyarakat sulawesi utara. Pemerintah juga memberikan bantuan bibit/pupuk bagi para petani, memberikan bantuan peralatan pertanian, perikanan kepada para petani dan nelayan, memfasilitasi pemberian kredit lunak dari beberapa bank, membangun jaringan pemasaran bagi produk pertanian masyarakat, pengembangan infrastruktur yang menunjang sektor pertanian, seperti jalan, jembatan dan irigasi. Namun semua itu tidak akan berhasil jika tidak ada dukungan dari masyarakat.

Dapat juga diambil langkah untuk mengarahkan petani miskin dan penganggur untuk mendapatkan lahan produktif sebagai modal untuk meningkatkan taraf hidup serta membatalkan rencana pemberlakuan pajak terhadap produk-produk pertanian. Pemantauan terhadap harga seluruh produk pertanian, terutama bahan makanan pokok, lebih diintensifkan, yaitu dengan melakukannya setiap hari. Harga bahan makanan pokok utama yang dipantau setiap hari, antara lain, adalah beras, ayam, terigu, minyak goreng, dan daging sapi.

Krisis di pasar modal global tidak akan menurunkan pasokan produk pertanian. Pasalnya, sebagian besar produk pertanian yang diperlukan diproduksi di dalam negeri. Sehingga kebutuhan-kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi sendiri.

Sektor pertanian dan perkebunan terpukul karena penurunan harga internasional dan perlambatan ekonomi dunia. Sekarang sudah terdapat beberapa petani kecil yang menjual kebun agar terhindar dari jebakan kredit. Munculnya pengangguran baru, khususnya mereka yang terlempar dari kegiatan di sektor pertanian/ perkebunan.

Pemerintah harus mengalokasikan kebijakan dan sebagian sumber daya ekonomi ke daerah, karena dampak krisis juga sangat dirasakan di daerah.Pendapatan asli daerah juga bisa merosot karena adanya krisis ini, khususnya daerah-daerah yang sangat menggantungkan penerimaan dari sumber daya alam (minyak, gas, batu bara, dan lain-lain). Akibatnya APBD akan terganggu dan menekan pembangunan daerah. Karena alas an tersebut, pemerintah diharapkan tidak mengonsentrasikan solusi krisis hanya ke sektor finansial dan industri, tetapi juga ke bidang-bidang lainnya yang memerlukan perhatian.

Kebijakan yang penting untuk dirumuskan adalah penguatan sektor pertanian/ perkebunan. Kebijakan ini dapat menyerap tenaga kerja, khususnya apabila dikaitkan dengan pembangunan infrastruktur pedesaan/pertanian. Penguatan sektor pertanian di tempuh dengan jalan relaksasi modal bagi petani kecil dan percepatan pembagian lahan. Sseperti penguatan pada bidang industri susu (susu bubuk, kental manis, dan cair), industri bumbu masak dan penyedap masakan, industri dasar kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, industri barang-barang dari karet untuk keperluan industri, industri kapal/perahu serta industri peralatan dan perlengkapan kapal. Sementara itu, ekspor Indonesia ke AS dan Eropa diprediksi menurun. Untuk mengamankan ekspor Indonesia, maka pemerintah melakukan diversifikasi ke pasar Asia. Dengan jalan ini, semoga dampak krisis bisa sedikit diredam sehingga daerah tidak kembali terperosok di lubang yang sama.